NTT-Post.com, MANGGARAI TIMUR – Di balik rimbunnya perbukitan Desa Rana Gapang, seorang bocah perempuan bernama Myscha duduk menekur di bangku kayunya yang mulai rapuh.
Siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles ini tidak sedang mengerjakan PR matematika, melainkan sedang menumpahkan keresahan hatinya di atas secarik kertas.
Dengan pena hitam dan tulisan tangan yang rapi, ia menyurati orang nomor satu di Republik ini, Presiden Prabowo Subianto.
Surat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potret kontras antara ambisi program nasional dengan realita pahit di beranda terdepan Indonesia.
Bagi Myscha dan kawan-kawannya di wilayah 3T, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kerap menghiasi layar televisi dan YouTube bak sebuah oase yang jauh.
Ada rasa cemburu saat melihat anak-anak di kota besar melahap menu sehat di nampan plastik yang bersih.

Namun, rasa cemburu itu seketika berubah menjadi getir karena berita-berita miring yang sampai ke telinganya.
“Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan,” tulis Myscha dengan kejujuran.
Rasa trauma akan berita keracunan massal membuatnya bersikap kritis. Ia menawarkan solusi yang lahir dari kearifan lokal, dengan membiarkan orang tua yang mengelola.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












