Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Buntut Penutupan Dapur Makan Bergizi Gratis Wailiti, Kejari Sikka Mulai Lakukan Penelusuran

“Terkait nasib relawan karena SPPG dinonaktifkan sementara, kita sudah melakukan puldata (pengumpulan data) dan pulbaket (pengumpulan keterangan),” ujar Okky Senin (22/6/2026) siang.

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
InShot 20260623 234358358
Buntut penutupan dapur makan bergizi gratis wailiti, Kejari Sikka mulai lakukan penelusuran. | (Foto: Dok Istimewa)

NTT-Post.com, SIKKA — Kejaksaan Negeri (Kejari) Sikka resmi turun tangan menelusuri persoalan penutupan sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wailiti di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Langkah hukum ini diambil setelah sejumlah relawan dan pekerja dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut mengadukan nasib mereka yang mendadak kehilangan mata pencaharian.

Para pekerja yang didominasi oleh janda, ibu rumah tangga, dan pekerja serabutan ini mengaku kehilangan penghasilan sejak operasional dapur dihentikan total pada 10 April 2026. Hingga Senin (22/6/2026), dapur tersebut terpantau masih mandek dan belum kembali beroperasi.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Sikka, Okky Prasetyo, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari para pekerja dan langsung melakukan langkah penelusuran awal.

“Terkait nasib relawan karena SPPG dinonaktifkan sementara, kita sudah melakukan puldata (pengumpulan data) dan pulbaket (pengumpulan keterangan),” ujar Okky Senin (22/6/2026) siang.

Meski demikian, pihak Kejari Sikka masih enggan membeberkan lebih lanjut mengenai hasil temuan awal maupun langkah hukum lanjutan yang akan ditempuh.

SPPG Wailiti yang berlokasi di Jalan Don Slipi merupakan satu dari 17 dapur program Makan Bergizi Gratis yang beroperasi di Kabupaten Sikka.

IMG 20260623 WA0017 1
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wailiti di Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Foto: Ade Riberu)

Dapur yang dikelola oleh Yayasan Peduli Nian Tana Flores ini tercatat telah melayani sekitar 3.600 penerima manfaat selama kurang lebih enam bulan sebelum akhirnya ditutup.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada 7 April 2026 pihak yayasan menerima surat peringatan resmi untuk memperbaiki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Di tanggal 10 April 2026, operasional dapur resmi dihentikan sementara karena sistem pengolahan limbah dinilai belum memenuhi standar kelayakan.

Selanjutnya pada Akhir April 2026, pihak yayasan rampung melakukan seluruh pembenahan sistem IPAL seperti yang diminta.

Sumber terpercaya menyebutkan bahwa pembangunan dapur SPPG Wailiti ini menelan investasi yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp1 miliar, dengan biaya tambahan khusus pembenahan IPAL sebesar Rp48 juta.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung