Dorong Perubahan Pola Tanam Tumpang Sari
Dalam kesempatan tersebut, Pengurus Tani Merdeka juga soroti pola pertanian masyarakat NTT yang dinilai masih heterogen dan didominasi metode tumpang sari.
Pola tanam campuran seperti menanam tomat, ubi, padi, dan jagung secara bersamaan dalam satu lahan dinilai perlu perlahan dibenahi agar produktivitas lebih optimal.
“Metode bertani di NTT ini mayoritas masih tumpang sari, beda dengan di Pulau Jawa yang satu hamparan ratusan hektar sudah fokus pada satu komoditas spesifik seperti padi saja atau jagung saja. Hal ini mungkin dipengaruhi keterbatasan lahan, tetapi ke depan pola-pola pertanian ini perlu kita dorong agar lebih terarah dan efisien,” terangnya.
Kritik Pembangunan Bendungan Tanpa Saluran Irigasi Terintegrasi
Membahas faktor krusial ketersediaan air, Tani Merdeka menyuarakan pentingnya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi.
Keberadaan bendungan-bendungan besar di NTT dinilai tidak akan berdampak maksimal bagi produktivitas pertanian apabila tidak ditunjang oleh jaringan irigasi yang memadai hingga ke lahan warga.
“Apa gunanya bendungan besar jika tidak memiliki saluran irigasi yang bagus untuk mengairi perkebunan dan sawah petani? Pembangunan bendungan harus terintegrasi langsung dengan saluran irigasinya, kalau tidak, manfaatnya tidak dirasakan,” tegasnya.
Ia berharap sejumlah bendungan di NTT segera dioptimalkan untuk mendukung para pertani dalam bertani.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












