Ia mempertanyakan fenomena banyaknya warga Jawa Barat yang berakhir menjadi pekerja di tempat hiburan malam di pelosok daerah seperti Maumere.
“Hampir semua pekerja pub di Maumere berasal dari Jawa Barat. Pertanyaannya, kenapa? Beliau (Gubernur) punya tanggung jawab untuk bertanya, ada apa dengan kebijakan yang diambil di sana sehingga cukup banyak warganya yang mencari kerja hingga terjebak situasi seperti ini?” tanya Pater Otto kritis.
Menurutnya, pemulangan korban hanyalah penyelesaian di hilir. Tanpa adanya evaluasi kebijakan lapangan kerja di daerah asal, praktik pengiriman tenaga kerja yang rentan terhadap TPPO akan terus berulang.
Meski memberikan catatan kritis, Pater Otto menampik anggapan bahwa kedatangan Gubernur Jawa Barat merupakan bentuk dukungan.
Ia melihat kehadiran pejabat publik sebagai simbol kehadiran negara bagi warganya yang tertindas.
“Ah tidak, itu bukan intervensi. Itu justru bukti keberpihakan negara terhadap para korban. Saya kira itu baik, karena negara memang harus berpihak pada korban dan beliau punya hati untuk itu,” jelasnya.
Saat ini, Jaringan HAM Sikka dan para aktivis mahasiswa terus mengawal agar penyidik Polres Sikka segera merampungkan perkara itu.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












